Site icon SIN Sulbar

Medical Director 20FIT Ungkap Cara Atlet Capai Peak Performance

SULBAR.SIN.CO.ID – Mencapai performa puncak atau peak performance tidak cukup hanya dengan latihan keras. Kondisi kesehatan, recovery, kesiapan fisik dan mental, serta pencegahan cedera menjadi bagian penting dalam menjaga performa atlet.

Hal tersebut disampaikan Medical Director 20FIT, Yusuf Ady Bimantara, dalam pemaparannya bertajuk ‘Unlocking Peak Performance in Athletes: A Sports Medicine Approach’ pada Professional Sport Workforce Training, tema From Science to Peformance sebagai bagian dari Indonesia Sport Summit (ISS) 2026.

Yusuf menjelaskan performa atlet merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan. Latihan memang menjadi stimulus penting, tetapi respons tubuh terhadap latihan dan kemampuan melakukan recovery turut menentukan hasil akhirnya.

“Performa pada atlet itu ditentukan oleh kesehatan atlet itu sendiri, kemudian latihan yang diberikan, recovery yang didapatkan, dan terakhir kesiapan atlet untuk perform,” ujar Yusuf di Cendrawasih Room, JICC Komplek GBK, Senayan, Jakarta, Jumat (11/9).

Menurutnya, kondisi atlet perlu dilihat secara menyeluruh. Pemeriksaan tidak hanya berfokus pada cedera atau penyakit, tetapi juga mencakup riwayat kesehatan dan cedera, kondisi kardiovaskular dan muskuloskeletal, beban latihan, nutrisi, recovery, hingga kondisi psikologis.

Setiap atlet juga memiliki respons berbeda terhadap latihan. Faktor biologis, riwayat kesehatan, psikologis, gaya hidup, dan genetik membuat satu program latihan belum tentu memberikan hasil yang sama pada setiap atlet.

Karena itu, pemantauan kondisi atlet perlu dilakukan secara berkala. Salah satunya dengan melihat training load, detak jantung, rating of perceived exertion (RPE), data GPS, serta kondisi recovery dan kesiapan atlet.

Yusuf menekankan kondisi atlet sebaiknya tidak hanya dinilai menjelang pertandingan. Tren kondisi dari waktu ke waktu justru penting untuk mengetahui apakah atlet berada dalam kondisi siap menerima beban latihan dan bertanding.

“Kalau mau melihat atletnya ready to perform atau tidak, bukan pada saat hari mau bertanding. Tapi lihat trennya dari waktu ke waktu,” jelasnya.

Selain monitoring, pencegahan cedera dan penyakit juga menjadi bagian penting dari pendekatan sports medicine. Dengan menjaga atlet tetap sehat dan mampu berlatih secara konsisten, proses adaptasi tubuh dapat berjalan lebih optimal.

Pendekatan tersebut meliputi pencegahan cedera dan penyakit, pengaturan beban latihan, recovery yang memadai, serta deteksi dini terhadap masalah kesehatan.

Untuk mencapai high performance atau peak performance, Yusuf menegaskan hal tersebut bukan pekerjaan satu bidang saja. Diperlukan kolaborasi antara pelatih, strength and conditioning coach, ahli gizi, fisioterapis, sport scientist, keluarga, dan tim sports medicine.

“Sports medicine tidak hanya bagaimana kita menjaga atlet tetap berada di dalam pertandingan (keep the athlete in the game), tetapi bagaimana kita mempersiapkan atlet untuk dapat perform secara aman dan berkelanjutan,” pungkas Yusuf.(**)

Exit mobile version